Perpustakaan Balai Konservasi Borobudur

  • Home
  • Information
  • News
  • Help
  • Librarian
  • Member Area
  • Select Language :
    Arabic Bengali Brazilian Portuguese English Espanol German Indonesian Japanese Malay Persian Russian Thai Turkish Urdu

Search by :

ALL Author Subject ISBN/ISSN Advanced Search

Last search:

{{tmpObj[k].text}}
Image of Konservasi dan Konsep Pengembangan Perahu Kuno Rembang

LAPORAN STUDI

Konservasi dan Konsep Pengembangan Perahu Kuno Rembang

Nahar Cahyandaru - Personal Name; Ari Swastikawati - Personal Name; Henny Kusumawati - Personal Name; Yudhi Atmaja - Personal Name; Brahmantara - Personal Name; Pramudianto D.H. - Personal Name; Ajar Priyanto - Personal Name;

Perahu kuno yang ditemukan di Desa Punjulharjo Kabupaten Rembang merupakan cagar budaya yang memiliki nilai penting yang tinggi. Temuan perahu kuno ini merupakan temuan perahu yang sudah sangat tua (abad ke-8), dengan kondisi yang relatif lengkap. Kajian konservasi dan konsep pengembangan perahu kuno Rembang ini bertujuan untuk merumuskan metode konservasi material kayu dan survey awal untuk mengetahui potensi pembangunan kawasan budaya di sekitar situs.

Metode konservasi material yang dikaji adalah metode impreganasi menggunakan Poli Etilena Glikol (PEG). Pengujian dilakukan dengan variasi kadar PEG sebagai perendam dan diamati perubahan dimensi kayu selama perendaman. Masing-masing sampel kayu dari variasi kadar perendaman selanjutnya dikeringkan untuk mengukur kadar air dan perubahan dimensi kayu selama proses pengeringan. Perlakuan ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik sampel kayu selama proses impregnasi dan proses pengeringan.

Hasil kajian menunjukkan bahwa metode pengeringan dengan cara pengeringan alami, pengeringan dengan matahari, maupun pengeringan oven menunjukkan kerusakan kayu paling tinggi karena pengeringan terjadi dengan sangat cepat. Perubahan dimensi kayu terjadi sejalan dengan penurunan kadar air, perubahan dimensi kayu kayu terutama terjadi pada arah radial, sedangkan arah tangensial dan trasversal tidak banyak mengalami perubahan. Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa kerusakan yang mungkin terjadi selama pengeringan adalah pengerutan arah radial yang menyebabkan kayu menjadi retak, sedangkan perubahan yang menyebabkan perubahan bentuk dan penyusutan ukuran perahu relatif kecil. Kadar air kayu sebelum sebelum perlakuan adalah sebesar 326%, setelah direndam dalam PEG 20% menjadi 106%, setelah perendaman ditingkatkan 30% kadar air menjadi 54%, dan pada kadar perendaman 40% kadar air kayu tinggal 18%. Kadar perendaman yang semakin tinggi secara positif menurunkan kadar air dalam kayu dan menurunkan perubahan dimensi kayu selama perendaman. Sehingga dapat disimpulkan bahwa perendaman dengan larutan PEG yang meningkat secara bertahap merupakan metode konservasi kayu bawah air yang efektif.


Availability
LS0312LS 930.1 KON kPerpustakaan Balai Konservasi Borobudur (B)Available
LS0823LS 930.1 KON kPerpustakaan Balai Konservasi BorobudurAvailable
Detail Information
Series Title
-
Call Number
LS 930.1 KON k
Publisher
Magelang : BALAI KONSERVASI PENINGGALAN BOROBUDUR., 2010
Collation
viii, 34 hlm; 29 cm
Language
Indonesia
ISBN/ISSN
-
Classification
930.1
Content Type
-
Media Type
-
Carrier Type
-
Edition
-
Subject(s)
Arkeologi
Konservasi
Specific Detail Info
-
Statement of Responsibility
Nahar Cahyandaru
Other version/related

No other version available

File Attachment
No Data
Comments

You must be logged in to post a comment

Perpustakaan Balai Konservasi Borobudur
  • Information
  • Services
  • Librarian Login
  • Member Area

About Us

Pada awalnya Balai Konservasi Borobudur bernama Balai Studi dan Konservasi Borobudur yang berdiri tahun 1991. Pada tahun 2006 berubah nama menjadi Balai Konservasi Peninggalan Borobudur berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor: PM.40/OT.001/MKP-2006 tanggal 7 September 2006.

Balai Studi dan Konservasi Borobudur dan Balai Konservasi Peninggalan Borobudur merupakan lembaga khusus yang menangani Candi Borobudur yang telah selesai dipugar memerlukan perawatan, pengamatan dan penelitian berkelanjutan.

Pada tahun 2012, lembaga ini kembali berubah nama menjadi Balai Konservasi Borobudur dan berfungsi sebagai pusat konservasi dan pemugaran cagar budaya seluruh Indonesia di samping menangani Warisan Dunia (World Heritage) Candi Borobudur.

Search

start it by typing one or more keywords for title, author or subject

Keep SLiMS Alive Want to Contribute?

© 2026 — Senayan Developer Community

Powered by SLiMS. . .
Select the topic you are interested in
  • Computer Science, Information & General Works
  • Philosophy & Psychology
  • Religion
  • Social Sciences
  • Language
  • Pure Science
  • Applied Sciences
  • Art & Recreation
  • Literature
  • History & Geography
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Advanced Search