Perpustakaan Balai Konservasi Borobudur

  • Home
  • Information
  • News
  • Help
  • Librarian
  • Member Area
  • Select Language :
    Arabic Bengali Brazilian Portuguese English Espanol German Indonesian Japanese Malay Persian Russian Thai Turkish Urdu

Search by :

ALL Author Subject ISBN/ISSN Advanced Search

Last search:

{{tmpObj[k].text}}
No image available for this title

DISERTASI

Lima marga dalam narasi visual relief gandawyuha-bhadracari di candi Borobudur : Kajian fenomenologi transendental

Ang So Tju (So Tju Shinta LEE) - Personal Name;

Lima Marga dalam Narasi Visual Relief Gandawyuha-Bhadracari di Candi Borobudur: Kajian Fenomenologi Transendental


Penulis: Ang So Tju (So Tju Shinta LEE)

Disertasi ini mengkaji esensi ajaran Buddha dalam kerangka lima marga pada relief-relief naratif Gandawyuha-Bhadracari di Candi Borobudur. Penelitian ini didasari krisis narasi ilmiah dan kurangnya studi yang berfokus pada pendidikan agama Buddha di Candi Borobudur. Riset ini menggunakan tiga konsep fenomenologi transendental: epoché, reduksi, dan variasi imaginatif sebagai dasar analisis dan interpretasi disertai analisis tema.

Riset ini menghasilkan dua temuan utama. Temuan utama pertama adalah terdapat esensi ajaran Buddha berupa lima marga dalam relief Gandawyuha-Bhadracari yang berfungsi sebagai pedoman dan patokan yang membimbing pada pencapaian tujuan. Marga pengumpulan dan marga penerapan untuk menghimpun daya kebajikan dan pengetahuan, diperlihatkan pada kunjungan Sudhana kepada mitra bajik ke-1—50. Marga penglihatan dengan ciri utama melihat realitas secara langsung, digambarkan melalui penglihatan berbagai manifestasi secara nonkonseptual oleh Sudhana di dalam kutagara Maitreya. Marga penumbuhkembangan digambarkan melalui praktik sepuluh kesempurnaan hingga pertemuan Sudhana dengan Manjusri. Marga melampau pelatihan ditunjukkan dengan penyempurnaan sepuluh pengetahuan oleh Sudhana dan pengukuhan oleh Samantabhadra atas dicapainya kesetaraan dengan semua Buddha. Penggambaran Gandawyuha berlanjut dengan relief Bhadracari mengenai cara hidup bajik dalam sepuluh tekad agung untuk membimbing makhluk-makhluk lain mencapai keadaan serupa. Temuan utama kedua adalah penggambaran di Candi Borobudur tidak merepresentasikan Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu. Adapun tujuan atau hasil dalam penggambaran Candi Borobudur adalah Penggugahan Tertinggi yang Lengkap dan Sempurna, bukan Arupadhatu dan cara-cara untuk mencapainya adalah melalui pengembangan tata laku dan praktik bodhisatwa. Pengungkapan lima marga dan evaluasi atas pembagian tiga dhatu memperjelas esensi ajaran Buddha dan gagasan pungkasan yang tergambar pada Candi Borobudur.

Melalui pengungkapan lima marga sebagai pedoman jalan spiritual, penelitian ini memberi sumbangsih paradigma Candi Borobudur bukanlah monumen yang tidak lagi berfungsi. Melalui pendekatan fenomenologi transendental, objek-objek peninggalan di masa lalu dapat lebih memperlihatkan relevansinya dengan kehidupan manusia di masa kini. Terakhir, dengan kandungan filosofi keagamaan yang mendalam disertai artefak lengkap yang bertahan hingga sekarang, Indonesia dapat berperan aktif dalam pertukaran pendidikan agama, pengetahuan, sejarah, dan kebudayaan dengan negara-negara lain berkat warisan budaya yang mendunia ini.

Kata kunci: fenomenologi transendental, lima marga Mahayana, narasi visual Candi Borobudur, relief Gandawyuha-Bhadracari, tinjauan ulang pembagian tiga dhatu.


Availability
DS0013DS 930.1 l c.1Perpustakaan Balai Konservasi BorobudurAvailable
Detail Information
Series Title
-
Call Number
DS 930.1 l c.1
Publisher
Depok : Uniersitsas Indonesia., 2024
Collation
xxii, 252 hlm.; 29 cm
Language
Indonesia
ISBN/ISSN
-
Classification
DS 930.1 l c.1
Content Type
-
Media Type
-
Carrier Type
-
Edition
-
Subject(s)
-
Specific Detail Info
-
Statement of Responsibility
Ang So Tju
Other version/related

No other version available

File Attachment
No Data
Comments

You must be logged in to post a comment

Perpustakaan Balai Konservasi Borobudur
  • Information
  • Services
  • Librarian Login
  • Member Area

About Us

Pada awalnya Balai Konservasi Borobudur bernama Balai Studi dan Konservasi Borobudur yang berdiri tahun 1991. Pada tahun 2006 berubah nama menjadi Balai Konservasi Peninggalan Borobudur berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor: PM.40/OT.001/MKP-2006 tanggal 7 September 2006.

Balai Studi dan Konservasi Borobudur dan Balai Konservasi Peninggalan Borobudur merupakan lembaga khusus yang menangani Candi Borobudur yang telah selesai dipugar memerlukan perawatan, pengamatan dan penelitian berkelanjutan.

Pada tahun 2012, lembaga ini kembali berubah nama menjadi Balai Konservasi Borobudur dan berfungsi sebagai pusat konservasi dan pemugaran cagar budaya seluruh Indonesia di samping menangani Warisan Dunia (World Heritage) Candi Borobudur.

Search

start it by typing one or more keywords for title, author or subject

Keep SLiMS Alive Want to Contribute?

© 2026 — Senayan Developer Community

Powered by SLiMS. . .
Select the topic you are interested in
  • Computer Science, Information & General Works
  • Philosophy & Psychology
  • Religion
  • Social Sciences
  • Language
  • Pure Science
  • Applied Sciences
  • Art & Recreation
  • Literature
  • History & Geography
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Advanced Search